My Life, My Love, and My Magic
Sulap. Belum sampai setahun aku
mengenalnya. Dulu, sulap dari pikiranku adalah sesuatu yang haya
dilakukan orang – orang aneh dan bertujuan untuk membodohi orang aneh
lainnya.
Namun tidak sejak hari itu. Aku
masih ingat persis, Rabu, 4 agustus 2010. Siang itu saya mencari makan
ke sebuah warung pangsit di dekat sekolah saya. Saya heran karena
biasanya warung itu sangat ramai dan harus mengantri, namun siang itu
hanya ada 4 orang pembeli disana. Sepasang orang yang sudah cukup tua,
mungkin 50 tahunan, seorang mas - mas mahasiswa ( saya tau soalnya mas
itu pakai jas almamater), dan seorang lagi seorang lagi mbak - mbak
mungkin berumur 24 tahun. Wanita itu duduk di pojokan, sambil menangis.
Karena tidak usah mengantri,
tanpa menuggu lama pangsitku langsung diantar oleh pelayan warung itu.
saya pun mulai makan. Walaupun merasa sekikit aneh saat melihat wanita
yang di pojokan itu, saya tidak melakukan apa – apa. Namun tidak
demikian dengan mas mahasiswa yang duduk di dekat saya itu. mungkin dia
merasa iba dengan wanita itu, dan mendatanginya sambil membawa sekotak
kartu. Saya pun mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Hai mbak. Kenapa kok nangis
mbak? Makanannnya tidak dimakan? Apa mau saya bantu makan? Hehehe….”
Tampaknya mas itu mengajak bercanda si mbak untuk menghentikan
tangisnya. Namun usaha ma situ sia – sia karena si mbak tidak merespon
sama sekali, bahkan tidak menoleh ke mas itu.
“mbak… boleh minta perhatiannya sebentar?” Tanya ma situ dengan ekspresi mulai sebel karena kelakuan si mbak.
“Apa sih mas? Mas mau menghibur
saya? Udahlah mas, gak akan bisa. Aku terlalu sedih untuk
dihibur.”(memang kelihatannya begitu) Jawab si mabk dengan ketusnya.
“o, tidak bisa. Selama ini aku jarang gagal menghibur orang, lho mbak..” (wah, mas ini sombong sekali)
“kalo gitu silahkan coba, mas.” Si mbak mulai memperhatikan si mas.
Kemudian si mas bermain – main
dengan kartunya. Ia menampilkan sebuah rangkaian sulap (yang akhir – ini
baru saya tahu kalo itu namanya ‘routine’). Tidak sampai sepuluh menit
si mas memainkan sulapnya, namun efek dari sulap itu sudah terlihat
sangat jelas. Siapa yang menyadari kalau si mbak itu sepuluh menit tadi
menangis tersedu – sedu, terlihat sangat sedih, namun sekarang sudah
senyum sumringah sambil sekali- sekali tertawa karena aksi sulap si mas.
Si mas telah sukses dalam menghibur si mbak.
Lalu aku membayar pangsitku dan
pergi begitu saja.Sisa hari itu kuhabiskan dengan memikirkan kejadian
itu.(Maaf, sedari tadi saya menyebut mereka dengan ‘si mas’ dan ‘si
mbak’, karena sampai sekarang saya belum tahu siapa nama mareka). Aku
berpikir,kalau aku bisa sedikit saja sulap seperti tadi, betapa mudahnya
menghibur orang. Mulai saat itu lah saya tertarik (dan mulai ke tahap
maniak) pada sulap.
Hari – hari setelah itu saya
habiskan dengan kartu – kartu. Awalnya saya membeli deck kartu permainan
biasa seharga 3500 rupiah. Namun setelah dipakai dua hari langsung
rusak, terlalu seret. Kemudian aku jadi pingin beli deck kartu yang
lebih bagus. Seminggu kemudian saya nekat membeli deck kartu standard
produksi Bicycle seharga 50.000… (padahal saya seorang anak kost, yang
masih sekolah di MTs, dengan uang saku seminggu 80.000, itu sudah
termasuk makan, pulsa, tugas, dll) .
Namun kenekatanku itu tidak sia
– sia. Sekarang aku sudah mulai mendapaktan prestasi yang cukup
membanggakan bagiku di dunia sulap. Aku sudah pernah menghibur satu
keluarga yang mempunyai anak yang buta karena penyakit toksoplasma. Aku
memainkan sebuah trik yang membuat orang yang buta bisa tahu apa kartu
yang kita pegang dengan cara member kode di kaki orang buta tersebut.(
trik ini sudah dari dulu aku tahu, sebelum mengenal sulap.aku tahu dari
buku Chicken Soup. Namun tampaknya baru – baru ini trik ini di post di
blog wikumagic.).
Sore itu di sebuah meja di
foodcourt di mall di kota Malang. Ada seorang temanku yang berulang
tahun dan mengadakan traktiran. Aku juga sempat menampilkan sebuah
routine di acara itu. namun acara itu tampak sangat tidak mengesankan
bagiku. Setelah makan, perutku masih lapar, karena aku hanya makan
salad. Namun saat kulihat di meja sebelah ada satu keluarga yang barisi
seorang ayah, seorang ibu, dan seorang anak laki - laki berumur sekitar
16 tahunan. Mata anak itu sangat aneh, hampir putih polos. Aku berpikir
mungkin dia buta.
Lalu aku mendatangi meja itu, berniat untuk sedikit memamerkan sulapku, sekaligus menghibur mereka.
“maaf, bolehkah saya bergabung dan memainkan sebuah sulap untuk anda sekalian?” aku bertanya dengan gaya yang agak sopan.
“ sebenarnya tidak apa – apa, namun sayangnya anak saya buta.” Jawab sang ibu.
“o, tidak apa – apa, kalau
begitu saya akan memainkan trik sulap untuk orang buta.” Aku pun
menjawab sambil agak tersenyum, karena tampaknya keluarga ini tertarik
dengan sulapku.
“ kalau begitu silahkan,nak” kali ini sang ayah yang menjawab.
Pertama aku duduk di depan si
anak dan bertanya siapa namanya. Ternyata namanya Toni. Lalu aku
menunjukkan kartu sekop pada toni, sekaligus mengetuk kakinya satu kali.
Lalu aku menunjukkan kartu keriting sambil mengetuk kakinya dua kali.
Dan seterusnya. Lalu kupastikan dia mengerti kode yang ku berikan.
Kemudian aku memberikan sekotak
kartu itu pada keluarga Toni, dan menyuruh mereka mengambil kartu yang
mereka inginkan untuk ditebak oleh toni. Mereka mengambil tiga kartu,
dan toni menjawab semuanya dengan benar. Lalu mereka mengulangi dengan
kartu yang berbeda sampai empat kali, dan semuanya terjawab oleh toni
dengan benar. Keluarga itu pun sangat senang dan berterimakasih padaku
karena sudah membuat mereka terkagum. Sebagai tanda terimakasih, aku
mendapatkan makan gratis (hehehe).
Aku juga pernah memainkan sulap
di alun – laun kota Malang, pada awalnya aku hanya memainkan sulap pada
sekelompok orang yang berjumlah empat orang. Namun pada akhir permainan,
saat kulihat sekelilingku ternyata sampai puluhan orang menggeromboli
kami. Itulah beberapa keberhasilanku yang sebenarnya masih banyak, namun
belum bisa aku ceritakan seluruhnya. O, iya. Aku bahkan menyatakan
cintaku pada pacarku juga dengan sulap. Namun sayangnya saat itu pacarku
kurang apresiatif dengan sulapku. Namun sekarang saat aku menunjukkan
sulap padanya, dia cukup tertarik dan kagum pada sulapku itu … heheheh
Sekarang, sulap sudah menjadi
satu bagian besar dari kehidupanku. Kemanapun aku pergi, aku tidak
pernah meninggalkan kartuku. Aku selalu memainkan kartuku dimanapun saat
ada waktu luang, walaupun hanya melatih tanganku untuk melakukan card
flourish sederhana. Aku kadang merasa lucu saat mengingat dulu aku tidak
tertarik sama sekali ada sulap. Namun sekarang aku telah menjadi
pesulap, walaupun sebenarnya masih amatiran.
Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan, namun disambung kapan – kapan saja…..
muh setyo
Biasa dipanggil black
soreang, 3 Maret 2012
0 komentar:
Posting Komentar